Postingan

Event 200 Langkah : Ciptakanlah Gelora Sekarang Juga! (Introduction And Announcement)

Gambar
Terima kasih atas inspirasi yang selalu kalian berikan! Terima kasih atas energi positif yang selalu kalian bagikan! Karena cinta yang besar dalam perjalanan ini, INFINITY mampu bertahan dan konsisten berkarya. Badai pernah menghadang, Namun semangat yang besar mengalahkan segala ketakutan. Hingga pada 20 Juli 2018 lalu, INFINITY memutuskan untuk melakukan sebuah TRANS FORMASI AKTIF. TRANSFORMASI AKTIF diwujudnyatakan agar INFINITY pergi dari zona nyaman. Kini, TRANSFORMASI AKTIF itu membuahkan sebuah hasil. Tepat 18 OKTOBER 2018, INFINITY resmi melahirkan 200 karya. Ketika anak tangga ke-100 terlewati, INFINITY selalu berharap langkah ke-200 dapat ditempuh. Dengan mengusung tema 200 LANGKAH : CIPTAKAN GELORA SEKARANG JUGA!, INFINITY ingin mengajakmu merasakan gelora kebahagiaan tanpa henti! SEKARANG JUGA!

.bahagia

Gambar
Tidak perlu bergurau dengan luka. Jangan menawarinya lebih banyak racun. Jangan mengingatkannya pada belati di pagi hari. Jangan mengizinkannya lebih dulu untuk mati. . . . Tiba inginmu untuk tetap di sini. Bukan denganku, Tapi dengan dirimu sendiri. Di antara liang-liang yang kau anggap penjara, Kau siap dengan asmara yang terhirup di antara kehampaan jiwa. Kau bilang : Di sini saja, jangan ke mana-mana . Tapi mulutku berbicara : Kamu harus pulang. Jangan di sini. . . . Membawamu pergi entah ke mana. Mendapatimu bahagia, Tak ada lagi setengah tawa. Hanya ada dirimu dan rasa yang kau inginkan untuk terasa. . . . Aku di sana. Kamu di sana. . . . Infinity mempersembahkan

Terus-Terusan Berharap

Gambar
Sekali lagi, Tuhan. Sekali lagi, Tuhan. Sekali lagi, Tuhan. Sekali lagi, Tuhan. Biarkan suaraku menjadi lantunan. . . . Aku belum lelah, Tuhan. Aku masih terus berharap, Tuhan. Sampai ratusan kali, Tuhan. Tak apa. . . . Hujan tak mengakhiriku. . . . Biar wajah itu berpaling. . . . Mungkin aku cuma sampah. . . . Lantunan,

.biru

Gambar
Tak perlu mengkhianati diri. Biarkan rongga itu mati tanpa memaki. Tak perlu sekalipun melukai, Atau menatapi langit yang selalu berbintang di malam hari. . . . Cukup bagimu kesempatan bernapas. Cukup bagimu telinga yang tersenyum ikhlas, Tanpa sedikitpun merampas, Atau lebih kejamnya lagi, menggilas. . . . Tinggallah dalam biru. Tertidurlah di sana hingga angan itu menempel di bahu, Atau di keputusanmu, Atau di kesadaranmu, Akan ada seorang manusia yang selalu menunggu. . . . Nantikan kejutan selanjutnya dalam rangkaian "GAMBARDIRI"

Ikatan.Ingatan

Gambar
Lebih dari ingin. Engkau adalah refrain . . . . Engkaulah hujan di atas batasan. Tiupan angin di tengah kemarau daratan. . . . Ikatan di tengah ingatan. Kelekatan di antara ketidakmungkinan . . . Menghindari namun punggungmu menghampiri. Membakar mati namun aku gagal menahan diri. . . . Kilat sekaligus sengat. Terbungkus seluruh ingatan ini dalam sebuah sekat. Kembalinya reruntuhan lalu yang pekat, Di situlah, wahai engkau yang ku puja, Rasa itu tertanam, tertahan sekaligus menimbulkan geliat. . . . #JanganLupaBahagia

Rasaku Tak Pernah Sampai

Gambar
Bisakah kau coba membaca mataku? Ada rahasia yang terpendam jeruji waktu. Sebuah jarak yang menahan rindu. Namun, Aku tak cukup pandai mengolah bahasa, Merangkum rasa dalam kata, Mengurai setiap detak yang terasa. Kita begitu jauh terletak seperti potongan mimpi yang terserak. Kenyataan sungguh tak terelak, Membuatku terhimpit dan sesak, Layaknya senja yang menentang untuk tenggelam, Suatu harapan dalam ketidakmungkinan. Menghabisi ingin yang mustahil tercapai, sebab rasaku tak pernah sampai. . . . GAMBARDIRI THE ANTHOLOGY IS OUT NOW! . . . Gambardiri mempersembahkan karya perdana Triningsih Wahyu Kristanti bertajuk   Rasaku Tak  Pernah Sampai.  Setelah lama menunggu, akhirnya, Rasaku Tak Pernah Sampai mencapai masa  publikasinya. Semoga kamu senantiasa menikmati karya manis ini!  Terima Kasih

kertas putih

Gambar
(kertas putih) . Tegar sukmaku, ketika kau namai aku : kertas putih. Pikirku masih begitu putih, enyah dari percampuran keindahan dan kehampaan. Tegar tampakku, ketika kau mengatai diri sebagai jurangku, Tempat di mana aku terjatuh, tersungkur sekaligus terkubur.