Dulu, aku memandang sebuah salib sebagai suatu hal yang sulit untuk dipikul. Dulu, aku memandang bahwa salib adalah seluruh perasaan menyiksa yang membuat aku terjatuh dan terpuruk. Aku mengaku, salib di masa lalu pernah membuatku terperosok terlampau dalam. Aku pernah merasa sakit yang bahkan tidak ingin lagi aku rasakan sampai saat ini. Rasanya tidak ingin merasakan salib itu kembali. Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama di masa lalu karena aku mau belajar menjadi manusia baru. Ini membutuhkan sebuah proses. Salib di masa lalu memang berat. Mengembalikannya kembali di masa kini adalah sebuah tantangan besar bagi hati dan pikiran. Namunlah, aku mencoba untuk membawa pengalaman tersebut sebagai proses belajar di hari ini. Pengalaman itu teramat berharga dan punya arti. Pengalaman tersebut selalu membuatku berserah pada kuasa Tuhan. Pengalaman tersebut tidak membuat aku menyerah dan aku mau bangun lagi. Seorang Alfa bisa bangun lagi dari rasa sakitnya adalah sebuah pr...
Keadilanku adalah pergi. Sejenak adalah bekal pertahananku. Pergi dalam geramku, sebentar dalam amarahku. Aku akan menentukan siapa diriku, dari situ. Aku adalah awan yang tak selamanya biru . . . Titik nadir. Aku hampir berada di sana. Imajinasi untuk melangkahkan kaki keluar dan meninggalkan. . . . Aku tak butuh angin pantai. Aku hanya butuh matahari yang tak pernah membuatku ramai. Bawakan aku melati sebagai tanda damai. . . . Wahai sukma, Takkan selamanya engkau mati dalam kata. Waktu ini adalah bagimu meniupkan perkasa. Sekali lagi saja dan segala membantah kata percuma. . . . Ingatanku, 16 Juli 2018
Sebuah perjuangan di tengah berbagai hambatan Sebuah fase di mana segalanya mengukir kenangan Sebuah langkah pembebasan pikiran. Aku berdiam di sana bersama seluruh tajam tikungan Bertahun ku cari keindahan angan yang dijanjikan, Ternyata segalanya membuktikan pembuktian, . . . Happy 300 Infinity. Terima kasih untuk cinta yang selalu kalian berikan!
Komentar
Posting Komentar