Postingan

Puisi Galau

Gambar
Remang meredakan perbedaan. Tidak ada cahaya selain titik terang yang kau bawa. Dekat menjadikanku tak berangan. Seberkas rasa itu membinasakan setiap luka Sedikit saja membuatku terkesima, Tak perlu banyak berkata karena aku lebih dulu jatuh cinta. Di bawah bayangan lalu yang terngiang, asmara merangkai jembatan antara jarak dan titik binasa. Pernah padaku dan padamu tergenggam riuh pertanda yang mengikat kita. Pernah ada. Adanya dunia yang pernah kita punya, Permainan kelabu di antara kepalsuan dan perjanjian. Pernah ada dan akan tetap ada. Galau adalah tulisan tangan kita. Sekarang atau selamanya, Silakan memilih, wahai cinta . . . perjalanan ini belum berakhir, teman. pict : wallpapersite.com

Bagian Tersembunyi

Gambar
Seruan masa lalu, Mengais wajah lalu yang tak selalu sembilu. Bagianmu terdampar halus dalam kelambu, Riuh kenyataan yang hidup di antara abu-abu Tenang di atas rata-rata, Takkan mampu menimbun kejujuran yang ada. Terduduk engkau dengan gembira, Dikemas olehmu sekantong air mata. Terbenam oleh waktu. Dibasuhnya oleh sebatang rokok di mulutmu segala laku baku. Redanya rindu tertangkap karena canda kita miliki bersama. Sempatkanlah padamu tertidur pada pundakku, sesaat saja, Sebelum segalanya terlanjur sirna Tanda dari tatap. Izinkan aku menetap. Menemani senjamu yang sejujurnya meratap. . . . Terima kasih.

Bersabarlah

Gambar
Bersabarlah Bila kebun binatangmu tumpah, Kecewa ini takkan berlimpah. Jerihku takkan menjadi hawa gerah. Air mataku bukan buah jerit menyerah. Amuk pencinta remuk. Ku cintai lukamu yang penuh lekuk. Sekalipun binatangmu mengajakku takluk, Jauh pikirmu tak membuat tubuhku berubah tekuk. Segala kemungkinan. Bagimu, santun tuturku bukanlah perhiasan. Buruk larangan yang ada kau jadikan alasan. Sesungguhnya, aku adalah tumpuan. Kau anggap aku serpihan tanpa kesan. Bersabarlah, Sebelum amarahku terlihat salah. Aku tak ingin engkau resah dalam desah. Bermimpilah wahai engkau yang begitu kucintai di tengah gundah, Semoga Cinta ini tak mampu berpindah. . . . Untuk siapapun kamu. . . . Pict :  www.prokuraturos.lt , Shutterstock

Lepas

Gambar
Kepada engkau yang terbebas dari sesuatu yang kuanggap penjara : Terima kasih atas jamuan malam yang pernah hidup dan bernyawa. Terima kasih atas detak yang pernah membuatku tersentak, hampir retak. Terima kasih atas lepas bebas yang dihiasi menit di garis tepi. Terima kasih atas canda berwarna, yang membuatku kembali bertanya pada Allah Bapa. Terima kasih atas surga yang tumbuh di antara neraka. Terima kasih atas rona di antara rerumputan dan panorama. Terima kasih atas amarah dan rasa bersalah di atas tanah. Terima kasih atas luka yang pernah menjadi berita. Air mata yang bahkan pernah mati karena terbagi. Terima kasih atas fatamorgana yang hadir dalam khawatirku pada jejak laku kata. Terima kasih atas pertemuan di akhir anak tangga, biar segalanya tertulis dalam kitab-kitab rasa. Terima kasih atas titik binasa yang pernah kau bawa. . . . Untukmu. pict : wallpaperlepi.com

Passion Of The Sun

Gambar
A diamond that bring a fire, Let’s burn our dream in this day. A morning that you prepare for a new soul. Let’s broke any reason that make us fall in the weakness. . . . The sparkle separates black and white. A light for every birds. A light brings a new hope for it wings. “Be an eagle!” in the middle of wind, the voice of sun hugs us. “Be a lion!” in the middle of dessert, the energy of sun guards us. . . . A skin of peace, Spirit that you share, our sun! Chosen passion that plant the energy of love, A better place for every heart, a nice day you create. “Be our soul, my sun!” . . . Let's build a new moment! Thank you. Pict : Syria | International Rescue Comittee

Kuat

Gambar
Kelabu di antara rayu. Di hadapku belukar kala pikirku terdiam kaku. Besiku rapuh kala tidurku tergenang pada keluhku. Inginku meragu dihiasi oleh ribu ide palsu. Namun, semesta meradang. Amarahnya ajakku berdendang. Jalurnya melepas tiang-tiang kekang. Sejenak, aku terdiam. Kuat ini hadir, menyapaku yang tertikam dalam kerang. Transformasi, aksi. Aku bukan kerdil untuk kali ini. Menjadi gagah di awal terbitnya mentari, Kepulanganku seolah memecah api yang membelenggu diri. Menjadi kuat di petang hari. Menjadi api yang berani berdiri di antara duri. Melangkah di antara sepi yang terkadang menggigit sepi. . . . Mempercayai luka yang menjadi bagian dari pijakan diri. . . . Terima kasih atas kesetiaan dan apresiasi anda semua.

Pesona

Gambar
Dari balik layar, Kemungkinan terang gelapmu terkembang. Pelita terbawa dalam himpitan yang tergenggam. Dari balik kesungguhanmu, ada rindu yang terpaku. Dari balik abu-abu warna tirai itu, Muncul warna biru dan itulah dirimu. Pesona dalam kekang, jantungmu seolah ingin membangkang. Dari bola matamu, tersembur kekuatan waktu yang takkan memaku. Sederhananya luka tak mencipta bunga yang layu. Sebagian bentengku adalah serpihan pesonamu, Yang tinggal meraba titik paling semu, Padaku, sikap mengerti akanmu tak mengenal palsu. Sisi lain kesungguhan. Kekuatan itu, yang mengenal aku dan kamu, adalah titik pertahanan. Sisi lainnya adalah tumpuan, Yang terkadang tenggelam dalam sekam, Diam, bersama waktu, meredam, sesekali memendam. . . . Pict : mojly.com